Secara fisik, manusia terbuat dari berbagai sel; tulang; dan berbagai macam bentuk organik didalamnya. Namun dalam jiwa manusia, Tuhan telah menciptakan dengan berbagai komposisi sifat sebagai berikut :
Kedermawanan;
Kebaikkan
Ketulusan;
Penyayang;
Pecinta;
Sabar;
Iri dengki;
Pendendam;
Pemarah;
Dan sifat-sifat jiwa lainnya.
Setiap manusia memilikinya sejak lahir dengan berbagai prosentase kuantitas yang berbeda-beda. Sehingga kita manusia, alangkah baik dan bijaknya apabila memakainya dalam kondisi dan situasi yang tepat dan dapat dikuasai dengan akal sehat.
Kita semua berhak untuk dendam, jika dendam itu menimbulkan kebaikkan untuk kita. Kita berhak marah asal kita tau dengan siapa kita marah, dan alasan apa kita marah. Kita berhak iri jika itu akan membuat diri kita bersemangat dalam mencapai sesuatu itu. jadi pergunakan itu sesuai kapasitas dan dalam kondisi yang sesuai.
Selasa, 27 April 2010
Jumat, 23 April 2010
Wanita yang Baik untuk Lelaki yang Baik, Begitu Sebaliknya.
Setiap kali buka Facebook, selalu ada status yang men-Judge Pasangannya dengan kata-kata buruk. Tak sadarkah mereka padahal dahulu pernah saling mencinta? mengapa keburukan harus terungkap dikala sudah tak mencinta. Bila kita bersama menyelami lebih dalam arti sebuah pasangan untuk kita adalah cerminan diri kita.
Pasangan yang baik adalah yang pantas untuk pribadi yang baik pula. Allah Berfirman dalam Al-Qura'an Q.S AN Nuur Ayat 26 : "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."
Jika kalian sudah menganggap bahwa dalam diri kalian sudah tertanam pribadi yang baik, maka Allah sedang menguji kabaikkan itu agar benar-benar terpaku kebaikkan dalam jiwa. Setelah itu, akan dihadirkan pasangan-pasangan yang baik dari sisi Allah untuk kalian, Insya Allah.
Didedikasikan untuk orang-orang muslim yang sedang kalut hatinya.
Pasangan yang baik adalah yang pantas untuk pribadi yang baik pula. Allah Berfirman dalam Al-Qura'an Q.S AN Nuur Ayat 26 : "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."
Jika kalian sudah menganggap bahwa dalam diri kalian sudah tertanam pribadi yang baik, maka Allah sedang menguji kabaikkan itu agar benar-benar terpaku kebaikkan dalam jiwa. Setelah itu, akan dihadirkan pasangan-pasangan yang baik dari sisi Allah untuk kalian, Insya Allah.
Didedikasikan untuk orang-orang muslim yang sedang kalut hatinya.
Label:
Artikel Kehidupan
Kartini Penurun Derajat Wanita?
Tanggal 21 april, seluruh masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini. Yang dulu kaum hawa begitu diremehkan posisinya, kini kaum hawa sederajat tingkatannya dengan kaum Adam. Ini adalah berkat jasa Ibu kita Kartini. Sebelumnya saya juga sependapat dengan ini. Ia amat berjasa mengangkat derajat para perempuan indonesia. Tapi setelah saya selami lebih dalam, apakah Kartini tidak melakukan sebaliknya? yakni menurunkan derajat perempuan.
Ingatkah bahwa Rosulullah S.a.w pernah mengatakan kepada sahabatnya bahwa orang yang patut kita hormati adalah yang pertama : Ibumu, yang kedua : Ibumu, kemudian Ibumu, setelah itu Bapakmu. 3 Tingkatan yang sangat luar biasa, Islam menghormati kaum perempuan. Teramat ironis, jika perempuan ingin menyamakan derajatnya dengan kaum lelaki. Sama saja ia menurunkan derajatnya ke 3 tingkatan yang lebih rendah.
Wanita adalah sumber kehidupan. Manusia-manusia lahir dari rahimnya. Manusia-manusia tumbuh dari air susunya. rasa kasih sayangnya tiada tara, teramat kaya kasih sayang seorang perempuan. Wanita lebih memiliki hak di mata Allah, tak sama dengan kuantitas hak seorang lelaki.
Apakah tidak lebih hebat seorang dengan doktor, profesor, magister, sarjana, disandang oleh seorang ibu yang bertugas untuk mendidik anaknya menjadi orang yang lebih berguna? lebih hebat mana jika ia menjadi seorang dokter spesialis, lulusan luar negeri, menyandang berbagai gelar, dihormati orang, tapi tak punya waktu untuk membesarkan anak-anaknya karena waktunya terbuang untuk mengurusi orang lain? sedangkan anak-anaknya diurus oleh orang yang tak tahu asal usulnya.
Inikah jasa Kartini? yang 'menjajarkan derajat' perempuan dengan kaum lelaki. Salah besar! seorang Wanita lebih berharga di Mata Allah sejak pertama kali ada kehidupan. Hingga ada sebutan 'Wanita perhiasan dunia', 'Surga ditelapak kaki Ibu'. Ini adalah penghargaan yang langsung diturunkan oleh Allah Swt karena teramat berharganya kaum wanita.
Jika ada yang bilang tentang masa lampau bahwa wanita di hina, dibunuh dijaman Jahiliyah, tidak dianggap dijaman penjajahan, bolehlah kita menghargai jasa Ibu kita Kartini yang telah berjuang untuk MEMERDEKAKAN HAK-HAK DIMATA MANUSIA, tapi salah Jika MENYAMAKAN DERAJAT PEREMPUAN. Islamlah yang meninggikan derajat perempuan jauh sebelum adanya Kartini.
Dedicated to Indonesia's Women
Ingatkah bahwa Rosulullah S.a.w pernah mengatakan kepada sahabatnya bahwa orang yang patut kita hormati adalah yang pertama : Ibumu, yang kedua : Ibumu, kemudian Ibumu, setelah itu Bapakmu. 3 Tingkatan yang sangat luar biasa, Islam menghormati kaum perempuan. Teramat ironis, jika perempuan ingin menyamakan derajatnya dengan kaum lelaki. Sama saja ia menurunkan derajatnya ke 3 tingkatan yang lebih rendah.
Wanita adalah sumber kehidupan. Manusia-manusia lahir dari rahimnya. Manusia-manusia tumbuh dari air susunya. rasa kasih sayangnya tiada tara, teramat kaya kasih sayang seorang perempuan. Wanita lebih memiliki hak di mata Allah, tak sama dengan kuantitas hak seorang lelaki.
Apakah tidak lebih hebat seorang dengan doktor, profesor, magister, sarjana, disandang oleh seorang ibu yang bertugas untuk mendidik anaknya menjadi orang yang lebih berguna? lebih hebat mana jika ia menjadi seorang dokter spesialis, lulusan luar negeri, menyandang berbagai gelar, dihormati orang, tapi tak punya waktu untuk membesarkan anak-anaknya karena waktunya terbuang untuk mengurusi orang lain? sedangkan anak-anaknya diurus oleh orang yang tak tahu asal usulnya.
Inikah jasa Kartini? yang 'menjajarkan derajat' perempuan dengan kaum lelaki. Salah besar! seorang Wanita lebih berharga di Mata Allah sejak pertama kali ada kehidupan. Hingga ada sebutan 'Wanita perhiasan dunia', 'Surga ditelapak kaki Ibu'. Ini adalah penghargaan yang langsung diturunkan oleh Allah Swt karena teramat berharganya kaum wanita.
Jika ada yang bilang tentang masa lampau bahwa wanita di hina, dibunuh dijaman Jahiliyah, tidak dianggap dijaman penjajahan, bolehlah kita menghargai jasa Ibu kita Kartini yang telah berjuang untuk MEMERDEKAKAN HAK-HAK DIMATA MANUSIA, tapi salah Jika MENYAMAKAN DERAJAT PEREMPUAN. Islamlah yang meninggikan derajat perempuan jauh sebelum adanya Kartini.
Dedicated to Indonesia's Women
Label:
Artikel Kehidupan
Selasa, 20 April 2010
My Endless Love II
Rindu membuncah mengambang tiada pijak
Bagaimana jika pijakan enggan di pijak?
Masihkah rindu ini berarti jika tak mampu kau lihat?
Aku enyah dari mu bukan mauku
Bahagiamu adalah citaku
Sebagaimana tlah kita ucapkan bersama
Dikala bersatu bahwa menyatu pilihan kita
Bukan kini, yang aku berderai karna maumu
Kau bersembunyi atas nama benci
Kau menebar kebohongan diantara kenyataan
Namun tak mampu menembus dinding cinta yang kau buat
Dalam diriku...
Jika menghargaimu ditempat yang layak adalah permasalahan
bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku meninggalkanmu
Tak sanggup hati ini menutup
Tak sanggup otak ini berhenti
Tak sanggup telinga ini tuli
Akan janji setia kita
Akan rencana kita
Aku tak sanggup...
Terimalah Yang Telah Dia Berikan
Allah swt. tidak hanya menciptakan kehidupan akhirat. Allah juga menciptakan kehidupan duniawi. Mengapa engkau membenamkan diri dalam ritual-ritual yang justru menghabiskan umurmu menjadi sia-sia, tak bermanfaat bagi sesame manusia. Engkau berkeinginan dekat kepada Allah, lalu duduk berlama-lama memutar biji tasbih, tepekur sampai tengkukmu menjadi kaku. Engkau memperbanyak malan-amalan sunah, sampai-sampai yang wajib terlupakan.
Sikap seperti itu pertanda bahwa kau hanya mengejar kehidupan akhirat belaka. Engkau melupakan hak dan kewajibanmu sebagai mahkluk di muka bumi. Padahal Allah menjadikan manusia itu sebagai khalifah, sebagai pengatur dan penguasa dunia.
Engkau lupa bahwa dirimu punya hak dan kewajiban untuk beristri dan beranak, mencari nafkah dan bergaul dengan sesama. Jika engkau bersikap mementingkan diri sendiri karena memburu akhiratmu, maka engkau pun melupakan kewajibanmu terhadap sesama manusia, terhadap anak dan istrimu dan terhadap orang-orang disekitarmu.
Atau justru sebaliknya, engkau tidak memikirkan akhiratmu sama sekali tetapi sibuk memburu kekayaan. Siang dan malam membanting tulang. Tak henti-hentinya mengumpulkan energi dan memeras keringat. Semua itu kau lakukan untuk mencapai kenikmatan duniawi. Ingatlah, Allah tidak hanya menciptakan dunia, tetapi juga menyediakan akhirat.
Jika dirimu tenggelam dalam lautan duniawi belaka, lalu mana persiapan untuk akhiratmu? Kenikmatan hidup di dunia ini hanya sekejap. Bagaikan musafir yang singgah di bawah sebuah pohon untuk berteduh.
Sebagai orang yang bermata hati, hendaknya jangan mementingkan urusan akhirat saja. Karena keinginan itu merupakan keinginan hawa nafsu. Sebaliknya, jangan pula mementingkan urusan duniawi. Itu pun merupakan keinginan hawa nafsu.
Orang-orang yang tajam pengelihatannya, tentu dapat mengatur keseimbangan antara kepentingan akhirat dan kehidupan duniawi. Masing-masing mendapatkan porsi yang seimbang. Orang-orang ini sadar bahwa Allah telah menyediakan kenikmatan duniawi yang harus dicapai dengan jerih payah. Allah juga menjanjikan akhirat yang harus diraih dengan jerih payah pula. Karenanya, dalam masalah ini yang terpenting adalah diperlukan sikap untuk berserah diri kepada Allah, bersikap menerima atas kehendakNya terhadap penghidupanmu.
Sumber : Intisari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha'illah - Abu Fajar Al Qalami
Sikap seperti itu pertanda bahwa kau hanya mengejar kehidupan akhirat belaka. Engkau melupakan hak dan kewajibanmu sebagai mahkluk di muka bumi. Padahal Allah menjadikan manusia itu sebagai khalifah, sebagai pengatur dan penguasa dunia.
Engkau lupa bahwa dirimu punya hak dan kewajiban untuk beristri dan beranak, mencari nafkah dan bergaul dengan sesama. Jika engkau bersikap mementingkan diri sendiri karena memburu akhiratmu, maka engkau pun melupakan kewajibanmu terhadap sesama manusia, terhadap anak dan istrimu dan terhadap orang-orang disekitarmu.
Atau justru sebaliknya, engkau tidak memikirkan akhiratmu sama sekali tetapi sibuk memburu kekayaan. Siang dan malam membanting tulang. Tak henti-hentinya mengumpulkan energi dan memeras keringat. Semua itu kau lakukan untuk mencapai kenikmatan duniawi. Ingatlah, Allah tidak hanya menciptakan dunia, tetapi juga menyediakan akhirat.
Jika dirimu tenggelam dalam lautan duniawi belaka, lalu mana persiapan untuk akhiratmu? Kenikmatan hidup di dunia ini hanya sekejap. Bagaikan musafir yang singgah di bawah sebuah pohon untuk berteduh.
Sebagai orang yang bermata hati, hendaknya jangan mementingkan urusan akhirat saja. Karena keinginan itu merupakan keinginan hawa nafsu. Sebaliknya, jangan pula mementingkan urusan duniawi. Itu pun merupakan keinginan hawa nafsu.
Orang-orang yang tajam pengelihatannya, tentu dapat mengatur keseimbangan antara kepentingan akhirat dan kehidupan duniawi. Masing-masing mendapatkan porsi yang seimbang. Orang-orang ini sadar bahwa Allah telah menyediakan kenikmatan duniawi yang harus dicapai dengan jerih payah. Allah juga menjanjikan akhirat yang harus diraih dengan jerih payah pula. Karenanya, dalam masalah ini yang terpenting adalah diperlukan sikap untuk berserah diri kepada Allah, bersikap menerima atas kehendakNya terhadap penghidupanmu.
Sumber : Intisari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha'illah - Abu Fajar Al Qalami
Berkurangnya Harapan Ketika Gagal
Jika dirimu mempunyai anggapan bahwa segala sesuatunya yang telah engkau petik di dunia ini atas jerih payahmu sendiri, maka berarti engkau membanggakan diri terhadap kemampuanmu. Engkau akan menemui penyesalan ketika kelak gagal. Engkau akan menyesal manakala mendapati hasil yang tidak sesuai dengan harapan.
Manusia seringkali lupa bahwa di balik daya upaya dirinya itu ada kekuatan yang Maha Kuat. Kekuatan Yang Berkuasa dan menetukan harapan-harapannya. Jika mata hatimu jernih, maka engkau akan melihat bahwa asal penyebab di balik jerih payahmu dan hasil yang kau dapatkan hanyalah dari Allah semata.
Keyakinan ini haruslah ditanamkan di dalam hati, agar engkau tidak menyesal manakala ikut bermain dalam kehidupan ini kemudian terantuk batu sandungan; gagal! Begitu juga jika engkau berhasil dalam mencapai harapan, maka engkau tak akan kufur nikmat.
Kebanyakan diantara manusia lupa diri. Mereka menganggap semua harapan itu dapat diraih dengan kekuatan usahanya sendiri. Karenanya jika ia telah dapat mencapai kenikmatan hidup, akhirnya jadi berbangga diri. Mereka mengingkari nikmat yang dirasakan. Mereka lupa bahwa yang menentukan hasil akhir dari jerih payahnya adalah Tuhan. Tanpa campur tangan kekuatanNya, tak mungkin dapat mencapai kenikmatan itu.
Tetapi jika dirimu sadar terhadap adanya penyebab kegagalan dibalik usaha, maka kegagalan hanya engkau pandang sebagai peringatan guna memperkuat kesadaran dalam berkehendak. Orang yang mengaku salik, tentu menyandarkan harapannya kepada Allah, Yang Mengabulkan cita-cita.
Manusia seringkali lupa bahwa di balik daya upaya dirinya itu ada kekuatan yang Maha Kuat. Kekuatan Yang Berkuasa dan menetukan harapan-harapannya. Jika mata hatimu jernih, maka engkau akan melihat bahwa asal penyebab di balik jerih payahmu dan hasil yang kau dapatkan hanyalah dari Allah semata.
Keyakinan ini haruslah ditanamkan di dalam hati, agar engkau tidak menyesal manakala ikut bermain dalam kehidupan ini kemudian terantuk batu sandungan; gagal! Begitu juga jika engkau berhasil dalam mencapai harapan, maka engkau tak akan kufur nikmat.
Kebanyakan diantara manusia lupa diri. Mereka menganggap semua harapan itu dapat diraih dengan kekuatan usahanya sendiri. Karenanya jika ia telah dapat mencapai kenikmatan hidup, akhirnya jadi berbangga diri. Mereka mengingkari nikmat yang dirasakan. Mereka lupa bahwa yang menentukan hasil akhir dari jerih payahnya adalah Tuhan. Tanpa campur tangan kekuatanNya, tak mungkin dapat mencapai kenikmatan itu.
Tetapi jika dirimu sadar terhadap adanya penyebab kegagalan dibalik usaha, maka kegagalan hanya engkau pandang sebagai peringatan guna memperkuat kesadaran dalam berkehendak. Orang yang mengaku salik, tentu menyandarkan harapannya kepada Allah, Yang Mengabulkan cita-cita.
Kamis, 15 April 2010
My Endless Love
Cinta terakhirku...
sebuah senyum kepergian menutupi kepedihan
jatuh berguguran bermacam rasa yang dulu ada
Rapuh hati ini menerima segalanya
Hikmah tersirat seolah tertutup takdir
Kau pergi menebar kenangan
diatas peraduan cintaku
Istana ku mulai sepi akan tawamu
cerita manjamu, panggilan sayangmu
untuk apa menebar wewangian jika bukan kau yang hirup?
aku tak sanggup membuka istana hatiku lagi
untuk siapapun, karena dirimu
dirimu yang menjanjikan mengisi cawan-cawan hatiku
dengan cairan cinta dan kesetiaan
belum penuh kau mengisi, kau enyah
padahal pagi belum kau temukan sinarnya
padahal bintang belum kau temukan kerlipnya
padahal kau masih berharap akan itu
kau sembunyikan rasa itu dari ku
namun itu, aku tau kau masih merasa
akankah Tuhan turunkan mukjizat-Nya?
Aku berharap...Kau datang dengan gaun terindah
menyambutku diatas ranjang yang pernah kita bicarakan
lalu,...
Bagai burung yang terpuruk menunggu pagi
dan aku adalah pagi yang datang dengan sinar cerah
membawa burung terbang menuju cakrawala
menyelubunginya dengan awan-awan putih
Datanglah kasih,
ku ingin kau yang berbaring diatas ranjangku
Bukan mereka, dia, namun Kita...
Dedicated to : Noviana Bellatrix
Langganan:
Postingan (Atom)
