Jumat, 08 Januari 2010

Berbeda atau Masih Terkait?

Masih tetap menyinggung tentang kehidupan. Adalah sebuah pertanyaan yang selama ini bersarang dikepala saya tanpa mengetahui apa jawaban pastinya. Namun, ketika tangan saya telah menari-nari diatas keyboard laptop usang saya, pasti...jawaban itu telah ku temukan. Meskipun masih penuh penalaran dari tiap-tiap pribadi pembaca. Yaitu : 'Bagaimana cara menghasilkan uang atau bagaimana cara mendapatkan pekerjaan tetap?'

Mungkin dari sebagian pembaca bingung maksud dari pertanyaan ini. Sebenarnya, Pertanyaan ini muncul ketika kita dihimpit masalah keuangan. Disisi lain kita tidak memiliki pekerjaan tetap. Lalu... apa yang kita pikirkan? 'Cara menghasilkan uang atau cara mendapatkan pekerjaan tetap?'.

Awal mulanya, saya sempat berpikir bahwa ini adalah sebuah paradigma yang mempunyai keterkaitan. Mengapa? Karena, Ketika diri kita bertanya, "Bagaimana cara menghasilkan uang?" adalah dengan mencari pekerjaan tetap. Mengajukan lamaran yang sesuai dengan background education kita, datang disetiap interview, menjalin relasi demi mendapatkan pekerjaan, dan banyak lagi yang harus kita lakukan untuk mencari pekerjaan tetap. Tapi...Hey!! "kita butuh uang!". Sadarkah bahwa kita telah membuang waktu kita untuk "lontang-lantung" mencari pekerjaan. Sudah tak berlakukah peribahasa "TIME IS MONEY"?.

Kemudian, dari situ, saya mencoba untuk memisahkan paradigma tersebut. dengan kata lain, 'Bagaimana cara mendapatkan uang' dengan 'Bagaimana mendapatkan pekerjaan tetap' memiliki perbedaan. Saya akan mencoba membahas 'Cara mendapatkan uang' terlebih dahulu. Kalau kita fokus untuk berpikir 'Cara mendapatkan uang' maka tindakan pertama kita adalah memikirkan bagaimana mendirikan usaha.

Mendirikan usaha tidaklah sulit. Modal pertama adalah keberanian dan pandai menganalisa pasar. Mengenai modal, bisa kita manfaat berbagai asset yang kita miliki atau yang orang tua kita miliki, seperti kendaraan, bangunan, tanah, atau asset-asset yang lain untuk kita jaminkan demi mendapatkan modal. Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya? bergeraklah. Lakukan apa yang telah anda rancang. Sebuah bisnis, bukan masih berpikir 'mau bisnis apa?'. Ingatlah, Bank atau lembaga finance tidaklah gratis meminjamkan dana bagi kita. Kita harus membayar bunga dari pokok yang kita pinjam.

Kini anda bisa disebut seorang pengusaha. Analisa pasar sebaik mungkin. Peka-lah terhadap lingkungan sekitar. Sebagai contoh :
- Alat telekomunikasi saat ini adalah bukan barang mewah lagi. setiap lapisan masyarakat mampu memilikinya. Bahkan anak-anak sekolah dasar pun sudah memegang alat ini. Jadi, setiap lapisan masyarakat tersebut dengan sendirinya membutuhkan pulsa. Dari sini, anda bisa membuka gerai penjualan pulsa bagi mereka.
- Anda memiliki hobi? Gunakan hobi anda sebagai sumber penghasilan, baik secara main job atau side job. Seperti hobi otomotif : anda bisa membuka bengkel. Tapi tetap, anda harus jeli menganalisa pasar. Jangan membuka tempat usaha yang sekiranya ditempat anda telah ada atau bahkan sepi pelanggan.

Menjadi pengusaha dapat melatih diri kita menjadi pribadi-pribadi yang disiplin. Mengapa bisa begitu?, Seorang pengusaha tidak ada yang mengatur jalan kerja mereka, kecuali perundang-undangan yang disahkan negara. Mereka memiliki jam kerja yang bisa di sesuaikan oleh kemampuan fisik mereka. Mereka juga memiliki peraturan-peraturan yang tercatat maupun yang tidak tercatat guna mendisiplinkan diri mereka. Jelas disini bahwa mereka memang pribadi yang disiplin, bukan pribadi yang menaati kedisiplinan. ini sangat berbeda.

Pribadi yang menaati kedisplinan adalah seorang pekerja tetap/honorer/freelance dibawah naungan institusi. Mengapa demikian?. Coba lihat, mereka bangun pagi untuk berangkat bekerja, diterpa kemacetan dijalan, sampai dikantor sudah dihadapkan oleh permasalahan-permasalahan pekerjaan, pulang malam, tidur kurang. Tak sedikit dari mereka keluh kesah. Seolah-olah mereka 'diperkosa' oleh institusi dimana mereka bekerja untuk menaati peraturan-peraturan yang berlaku sebagaimana mestinya, padahal mereka selalu keberatan untuk menaatinya. Sedangkan soal penghasilan, bisa diperhitungkan dengan pengusaha/wiraswasta, relatif sama atau bahkan lebih besar. Tetapi itu berlaku bagi para wiraswasta yang memiliki pribadi yang disiplin, tahan banting, tak mudah menyerah, selalu mengevaluasi kesalahan, dan memiliki daya kreatifitas.

Ini lah tantangan bagi seorang Enterpreneur (wiraswasta). Siapa yang mampu bertahan dan tetap disiplin menjalani profesinya, dia akan lebih sukses dari seorang pekerja tetap di Institusi. Seorang pekerja tetap pun bisa memiliki penghasilan lebih besar, tetapi itu sangat sulit karena harus melewati beberapa tahapan yang diberlakukan oleh institusi. Entah itu soal pengalaman, dedikasi pekerja tersebut ke Institusi terkait, bahkan harapan akan musnah jika background education kita tak menunjang untuk mengisi qualify yang diminta. Inilah sebagian modal jika ingin menjadi pegawai tetap.

Tidak mudah memang. Sebagian Institusi/Perusahaan selalu membutuhkan pekerja yang berpengalaman. Perusahaan seperti ini tidak memiliki dana tambahan untuk men-trainne para calaon karyawannya. Bahkan sebagian perusahaan memberlakukan perjanjian 'Cute off' bagi calon karyawannnya atau sering disebut sistem kontrak. Sistem kontrak ini memberi efek psikologis para sebagian calon karyawan. Banyak dari mereka telah menggantungkan hidupnya kepada perusahaan, namun perusahaan tidak ingin meneruskan/memperpanjang kontrak kerjanya.

Sedangkan dipandang dari segi resiko kebangkrutan atau kehilangan pekerjaan, lebih besar peluangnya seorang pengusaha dari pada seorang pekerja tetap. Ini sebuah tantangan lebih bagi para pengusaha. janganlah bersenang-senang dahulu jika pendapatan ditahun pertama usaha anda meningkat pesat. Berpikirlah untuk menginvestasikan sebagian dari omset anda. Bayangkan bahwa usaha anda akan mengalami penurunan omset ditahun kedua. Sehingga anda bisa menginvestasikan sebagian omset anda. Bukan berarti anda tak bisa merasakan hasil jeripayah anda sendiri, tetapi ambil sesuai dengan kebutuhan anda. Bayangkan jika anda menggaji karyawan yang memiliki tugas seperti anda, maka anda akan menggaji diri anda sendiri seperti anda menggaji karyawan itu.

Dari sini, jelas memiliki perbedaan dari paradigma saya diatas setelah diurai satu persatu. Dan kesimpulannya adalah tidak ada keterkaitan. Tergantung bagaimana kita mengambil jalan hidup kita. Jika kita adalah pribadi yang mudah menyerah, takut dengan resiko kehilangan modal atau kerugian, maka carilah pekerjaan sebagai tiang gantungan hidup anda. Tetapi jika anda menyukai tantangan, mengharap penghasilan yang lebih sesuai dengan jam kerja, daya berfikir, kreatifitas, maka anda bisa mencoba menjadi seorang enterpreneur.

Ingat : Jangan menaruh 1 Kg telur dalam satu wadah, pisahkan setengahnya di wadah lain, karena jika salah satu wadah jatuh, kita masih memiliki setengahnya untuk kelangsungan hidup.

Rabu, 06 Januari 2010

Siang Hari di Stasiun

Rabu, 6 Januari 2010




Cuaca sangat mendukung saat itu untuk keluar rumah. Berawan dan sinar matahari yang tak terlalu menyengat. Hari itu, ayahku hendak pergi dinas ke Semarang. Sejak awal, Ayah ingin aku antar ke Terminal bungurasih - Sidoarjo, tapi diurungkan niat itu oleh beliau. Ada beberapa pertimbangan memang kalau beliau hendak naik bis. Pertama, jarak rumah ke terminal memang cukup jauh, Kenjeran - Waru +/- 35 KM. Kedua, kalau ayah naik bis, sampai semarang pasti lebih malam sekitar pukul 9 atau 10 malam padahal di Semarang sulit mencari angkot. Di putuskan oleh beliau untuk naik kereta executive saja.

Seketika itu jalur berubah dari menuju Terminal banting setir ke arah Stasiun. Seperti biasa, suasana riuh di stasiun pasar turi sudah tercium sejak memasuki pintu gerbang stasiun. Hilir mudik para tengkulak dari Pasar Turi yang hendak menjual barang dagangannya ke Jakarta. Belum lagi para kuli angkut dan karyawan expedisi barang yang naik-turunkan barang di truk di area parkir stasiun.

Kemudian ayah bergegas turun untuk memastikan tiket kereta masih tersedia atau sudah habis terjual, sedangkan aku masih sibuk mencari tempat parkir. Setelah memarkir kendaraan aku bergegas mengikuti langkah beliau. "Celingak-celinguk" ketika memasuki ruang penjualan tiket kereta Executive Rajawali mencari beliau. Eeeehh... Untung masih ada tiket. Ayah sedang antri membeli tiket. Tiket sudah di tangan, kita berdua memasuki pelataran stasiun. Tak seberapa riuh seperti dugaanku -karena biasanya, jika di halaman luar saja sudah ramai, pastinya didalam lebih ramai bahkan bisa 2X lipat-.

Selang beberapa menit kereta yang ditunggu memasuki Jalur 2. Dari sinilah dimulainya cerita hari ini. Para kuli angkut mengejar Rizki mengabaikan segala keselamatannya. Kereta yang masih melaju cukup kencang, ia kejar demi mendapatkan pelanggan. Padahal tak jarang dari mereka yang gagal mendapatkan pelanggan. Tapi kegigihan mencari rizki itulah yang membuatku berdecak kagum. Inilah hidup. Kegagalan tak mungkin kita tolak dan keberhasilan pun akan kita terima.

Disisi lain, para pedagang nasi, koran, air mineral, menjajahkan barang dagangnya masing-masing. Berteriak hilir mudik mendendangkan sajak-sajak penuh haru. Kita tak pernah tahu, jeritan apa di hatinya. Mungkin, "hai... para pelancong, pebisnis, penumpang, bantulah aku menyekolahkan anakku, membuat kenyang keluargaku, aku juga ingin seperti kalian. Bepergian. Berbisnis. Meski itu tak mungkin tapi biarlah anak-anakku yang mewujudkannya. Belilah barang dagangannku meski kau tak seberapa butuh. Bantulah aku!". Semangat mereka adalah seruan keluarganya.

Seperti aku yang selalu ingin meneriakkan kata-kata semangat, dan cerita-cerita orang yang berhasil kepada ayahku. Aku ingin beliau tetap semangat menjalani segala tanggung jawabnya. Terus maju menggapai segala impian, bukan berdiam diri dan menerima segalanya dengan pasrah. Allah menciptakan isi bumi ini tak pernah ada batasnya. Setiap jam mahkluk hidup-mahkluk mahkluk hidup lahir di muka bumi. Rizki-rizki bertebaran bak debu disebar dari langit. Tapi mengapa manusianya membatasi jalan utnuk mencari rizki?. Life must go on. Bersyukurlah apa yang ada, tapi jangan berpuas diri dengan mudah. masih ada yang lebih baik.


Dedicated to My Father

Sabtu, 02 Januari 2010

Kebahagiaan itu milik siapa?

Pernakah kita merenungkan tujuan hidup kita?. Sebagaian orang bilang, "tujuan hidup adalah mencari keberhasilan dalam segala hal sehingga tercipta kebahagiaan". Secara garis besar dari statement di atas adalah kebahagiaan sebagai tujuan hidup. Memang, banyak orang melewatkan setiap kehidupannya dengan "memasuki" alam kebahagian yang telah ia raih. Tak sedikit pula, yang masih mencari dimana itu kebahagiaan.

Sedikit cerita, si A adalah seorang pengusaha yang berhasil, sumber-sumber kebahagiannya adalah menikmati segala materi yang telah di dapat, sehingga waktu terbesarnya dilewati dengan "memasuki" alam kebahagiaannya. Pergi berlibur keluar negeri. Mengkoleksi mobil-mobil langkah nan mewah. Suatu hari ia mengadakan perjalanan dinas. Ia melintas di sebuah mall, Hujan cukup deras kala itu, ia memandang orang-orang berlari mencari tempat berteduh dari balik kaca mobil mewahnya. Matanya menangkap seorang pria seumurannya sedang berteduh dengan istri dan 2 anaknya. Sebut saja si B. Mereka mungkin baru saja berbelanja dari mall itu, karena mereka membawa kantong belanjaan cukup banyak. Kemudian ia bergumam dalam hati, "betapa bahagianya bisa menikmati waktu dengan anak dan istri". Istri si A adalah seorang Vice president di sebuah bank, istrinya tidak banyak meluangkan waktu untuknya. Anaknya masih berumur 12 tahun, juga tak pernah ia luangkan waktu untuk sekedar bermain dan berkomunikasi. Ia sangat sibuk. Jadi, Kebahagiaan kala itu milik si B. Namun si B pun berbicara pada istrinya, "seandainya kita bisa punya mobil mewah seperti itu, alangkah bahagianya ya bu...".
Nah, sekarang kebahagiaan itu milik siapa?

Benar adanya jika salah satu dari banyaknya tujuan hidup adalah mencari kebahagiaan. Kebahagian milik siapa saja, jika mensyukuri segala keadaan yang kita terima. Apapun yang kita miliki, jadikan asset yang sangat berguna dalam hidup anda. Tanamkan sebuah statement bahwa asset anda belum tentu semua orang memiliki. Bebaskan setiap pemikiran yang dapat menghapus semua kebahagiaan anda. Karena kebahagian milik kita yang bisa mensyukuri segala keadaan yang kita punya.




Sumber : Penalaran diri dari pemahaman acara "Golden Ways" (Mario Teguh). Ia lah sumber inspirasi saya.

Jumat, 01 Januari 2010

Kekuatan Prinsip

(ingatlah) Ketika dua golongan daripadamu hampir kehilangan semangat, (dan ingin mengundurkan diri), sedangkan Allah melindunginya. Kepada Allah hendaknya orang mu'min tawakal.
(Q.S 3 Surat Ali Imran Ayat 122)

Kisah ini diambil dari sebuah buku ESQ karya Ari Ginanjar :

"Saya sedang berada di Jakarta dan sedang menulis buku. Hari itu minggu, tanggal 30 Juli tahun 2002, pukul 12 siang. Tiba-tiba telepon genggam saya berdering. salah seorang mitra usaha saya, seorang dokter dan juga "master" di bidang assuransi kesehatan, menghubungi saya. ia memberi tahu, bahwa dirinya sedang berada di Bali dalam rangka perjalanan bisnis untuk meluncurkan dan memasarkan produk assuransi terbaru khusus turis asing yang datang ke Bali. Kebetulan dia pernah meminta saya untuk mencarikan seseorang yang memiliki akses pemasaran di sana. Saya langsung teringat kepada seorang teman di Bali yang pernah meminta saya untuk dicarikan produk seperti yang ditawarkan oleh mitra usaha itu. Kemudian saya menghubunginya. ini suatu peluang bisnis bagi kawan saya. Saya akan mempertemukan mereka berdua. Lalu saya ceritakan tentang mitra usaha saya kepada teman saya yang berada di bali itu agar mempermudah perkenalannya. Saya jelaskan bahwa mitra usaha saya itu adalah seorang yang sangat ahli di bidang kesehatan, dan ia pimpinan salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia, seorang dokter dan sangat sukses di Jakarta. Pernah mencapai omset pendapatan premi terbesar di Indonesia di bidang asuransi kesehatan. semua ini saya jelaskan kepada kawan lama saya itu agar timbul suatu keyakinan dalam dirinya bahwa dia akan saya pertemukan dengan orang yang sungguh-sungguh ahli dan tepat dalam bisnis.

Tetapi sesuatu terjadi diluar dugaan saya. Kawan lama saya itu merasa dirinya tidak sejajar dengan sang mitra usaha. Dia mengungkapkan hal ini kepada saya bahwa dia merasa ragu-ragu untuk menemuinya. Sungguh diluar perkiraan saya. Radar hati saya harus bergerak cepat, saya harus meyakinkan kawan lama saya itu. Saya menyadari paradigma yang terbentuk akibat dari kata-kata dan penjelasan saya tentang sang mitra usaha itu membuatnya dirinya minder. Saya tekankan bahwa, "memang sang mitra usaha itu ahli di bidang asuransi kesehatan, tetapi pengetahuan tentang jaringan pemasaran di Bali pastilah anda lebih menguasainya." Lalu saya katakan : "Mitra usaha saya itu orang Jakarta dan anda tinggal di Bali, jadi anda pasti lebih menguasai pemasaran di Bali dan bahkan apabila sang mitra usaha itu berjalan sendrian di daerah Kuta saja, pastilah dia tersesat kebingungan," saya berusaha meyakinkan. Saat itu, bisa saya rasakan bahwa kawan lama saya itu tersenyum dan kepercayaan dirinya tumbuh kembali. Dia berkata : "baik, berapa nomor teleponnya, dan dimana dia tinggal!" dengan suara penuh keyakinan. Kawan lama saya tiu hampir kehilangan peluang usaha senilai 100.000 USD. Produk yang belum pernah ada di Bali. Saya yakin akan berhasil, karena kawan lama saya itu memiliki akses penting di Bali, yang menurut saya berpotensi dan membutuhkan produk tersebut."

Dari kisah diatas, sekiranya bisa menjelaskan bahwa sebuah kalimat, sebuah keterangan, atau sebuah kejadian, mampu mengubah paradigma berpikir seseorang. Dan sebaliknya, mampu menghasilkan sikap yang sangat merugikan. Dalam diri seseorang sebenarnya telah dikaruniai oleh Tuhan sebuah jiwa, dimana dengan jiwa tersebut, tiap orang bebas memiliki sikap. Bereaksi positif atau negatif, bereaksi salah atau benar, bereaksi rekatif atau proaktif, bereaksi baik atau buruk. Andalah sebenarnya penanggung jawab penuh dari reaksi diri anda, sikap anda, dan keputusan anda.

Lingkungan bisa berubah dalam hitungan detik tanpa bisa diduga. namun prinsip adalah abadi. Prinsip tidak berubah. Disanalah terletak pusat rasa aman yang hakiki. Rasa aman yang tercipta dari dalam, bukan dari luar. Prinsip yang benar bukanlah sekedar sikap "proaktif" yang selama ini dikenal di barat, yaitu melihat dan berespon dengan cara yang "berbeda" tenpa prinsip dasar yang jelas. Prinsip dasar adalah suatu kesadaran fitrah (awareness), berpegang kepada Pencipta yang abadi. Prinsip yang esa, Laa ilaaha Illallah.

Kemampuan untuk "mengendalikan sukma" ketika suatu permasalahan terjadi atas diri kita adalah sangat sulit dilakukan tanpa adanya kekuatan prinsip yang bisa dipegang teguh. Kemampuan untuk mengendalikan sukma (proaktif) melalui prinsip Allah Yang Maha Esa dinamakan kekuatan prinsip. inilah dasar penjernihan emosi kita, bukan proaktif seperti yang diajarkan oleh kalangan orang-orang barat yang masih meraba-raba itu.

Kekuatan prinsip selanjutnya akan menentukan tindakan apa yang akan diambil, jalan yang fitrah atau jalan non-fitrah. Jalan non-Fitrah cenderung menyesatkan dan merugikan. Sedangkan jalan fitrah adalah suatu tindakan yang dibimbing oleh suara hati. Suara hati ini berasa dari God-Spot. Ini sesuai dengan jalaludin Rumi, Danah zohar, Ian Marshall, VS Ramachandran. Atau hasil riset syaraf Austria, Wolf singer,. Mereka pakar dibidang SQ. Sederhananya adalah firman Allah pada Surat Asy Syams Ayat 8-10 :
(Allah) mengilhami (sukma) kejahatan dan kebaikan. Sungguh, bahagialah siapa yang menyucikannya. Dan rugilah siapa yang mencemarkannya.


Sumber : Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual (Ari Ginanjar)