
Cuaca sangat mendukung saat itu untuk keluar rumah. Berawan dan sinar matahari yang tak terlalu menyengat. Hari itu, ayahku hendak pergi dinas ke Semarang. Sejak awal, Ayah ingin aku antar ke Terminal bungurasih - Sidoarjo, tapi diurungkan niat itu oleh beliau. Ada beberapa pertimbangan memang kalau beliau hendak naik bis. Pertama, jarak rumah ke terminal memang cukup jauh, Kenjeran - Waru +/- 35 KM. Kedua, kalau ayah naik bis, sampai semarang pasti lebih malam sekitar pukul 9 atau 10 malam padahal di Semarang sulit mencari angkot. Di putuskan oleh beliau untuk naik kereta executive saja.
Seketika itu jalur berubah dari menuju Terminal banting setir ke arah Stasiun. Seperti biasa, suasana riuh di stasiun pasar turi sudah tercium sejak memasuki pintu gerbang stasiun. Hilir mudik para tengkulak dari Pasar Turi yang hendak menjual barang dagangannya ke Jakarta. Belum lagi para kuli angkut dan karyawan expedisi barang yang naik-turunkan barang di truk di area parkir stasiun.
Kemudian ayah bergegas turun untuk memastikan tiket kereta masih tersedia atau sudah habis terjual, sedangkan aku masih sibuk mencari tempat parkir. Setelah memarkir kendaraan aku bergegas mengikuti langkah beliau. "Celingak-celinguk" ketika memasuki ruang penjualan tiket kereta Executive Rajawali mencari beliau. Eeeehh... Untung masih ada tiket. Ayah sedang antri membeli tiket. Tiket sudah di tangan, kita berdua memasuki pelataran stasiun. Tak seberapa riuh seperti dugaanku -karena biasanya, jika di halaman luar saja sudah ramai, pastinya didalam lebih ramai bahkan bisa 2X lipat-.
Selang beberapa menit kereta yang ditunggu memasuki Jalur 2. Dari sinilah dimulainya cerita hari ini. Para kuli angkut mengejar Rizki mengabaikan segala keselamatannya. Kereta yang masih melaju cukup kencang, ia kejar demi mendapatkan pelanggan. Padahal tak jarang dari mereka yang gagal mendapatkan pelanggan. Tapi kegigihan mencari rizki itulah yang membuatku berdecak kagum. Inilah hidup. Kegagalan tak mungkin kita tolak dan keberhasilan pun akan kita terima.
Disisi lain, para pedagang nasi, koran, air mineral, menjajahkan barang dagangnya masing-masing. Berteriak hilir mudik mendendangkan sajak-sajak penuh haru. Kita tak pernah tahu, jeritan apa di hatinya. Mungkin, "hai... para pelancong, pebisnis, penumpang, bantulah aku menyekolahkan anakku, membuat kenyang keluargaku, aku juga ingin seperti kalian. Bepergian. Berbisnis. Meski itu tak mungkin tapi biarlah anak-anakku yang mewujudkannya. Belilah barang dagangannku meski kau tak seberapa butuh. Bantulah aku!". Semangat mereka adalah seruan keluarganya.
Seperti aku yang selalu ingin meneriakkan kata-kata semangat, dan cerita-cerita orang yang berhasil kepada ayahku. Aku ingin beliau tetap semangat menjalani segala tanggung jawabnya. Terus maju menggapai segala impian, bukan berdiam diri dan menerima segalanya dengan pasrah. Allah menciptakan isi bumi ini tak pernah ada batasnya. Setiap jam mahkluk hidup-mahkluk mahkluk hidup lahir di muka bumi. Rizki-rizki bertebaran bak debu disebar dari langit. Tapi mengapa manusianya membatasi jalan utnuk mencari rizki?. Life must go on. Bersyukurlah apa yang ada, tapi jangan berpuas diri dengan mudah. masih ada yang lebih baik.
Dedicated to My Father

Tidak ada komentar:
Posting Komentar