Jumat, 01 Januari 2010

Kekuatan Prinsip

(ingatlah) Ketika dua golongan daripadamu hampir kehilangan semangat, (dan ingin mengundurkan diri), sedangkan Allah melindunginya. Kepada Allah hendaknya orang mu'min tawakal.
(Q.S 3 Surat Ali Imran Ayat 122)

Kisah ini diambil dari sebuah buku ESQ karya Ari Ginanjar :

"Saya sedang berada di Jakarta dan sedang menulis buku. Hari itu minggu, tanggal 30 Juli tahun 2002, pukul 12 siang. Tiba-tiba telepon genggam saya berdering. salah seorang mitra usaha saya, seorang dokter dan juga "master" di bidang assuransi kesehatan, menghubungi saya. ia memberi tahu, bahwa dirinya sedang berada di Bali dalam rangka perjalanan bisnis untuk meluncurkan dan memasarkan produk assuransi terbaru khusus turis asing yang datang ke Bali. Kebetulan dia pernah meminta saya untuk mencarikan seseorang yang memiliki akses pemasaran di sana. Saya langsung teringat kepada seorang teman di Bali yang pernah meminta saya untuk dicarikan produk seperti yang ditawarkan oleh mitra usaha itu. Kemudian saya menghubunginya. ini suatu peluang bisnis bagi kawan saya. Saya akan mempertemukan mereka berdua. Lalu saya ceritakan tentang mitra usaha saya kepada teman saya yang berada di bali itu agar mempermudah perkenalannya. Saya jelaskan bahwa mitra usaha saya itu adalah seorang yang sangat ahli di bidang kesehatan, dan ia pimpinan salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia, seorang dokter dan sangat sukses di Jakarta. Pernah mencapai omset pendapatan premi terbesar di Indonesia di bidang asuransi kesehatan. semua ini saya jelaskan kepada kawan lama saya itu agar timbul suatu keyakinan dalam dirinya bahwa dia akan saya pertemukan dengan orang yang sungguh-sungguh ahli dan tepat dalam bisnis.

Tetapi sesuatu terjadi diluar dugaan saya. Kawan lama saya itu merasa dirinya tidak sejajar dengan sang mitra usaha. Dia mengungkapkan hal ini kepada saya bahwa dia merasa ragu-ragu untuk menemuinya. Sungguh diluar perkiraan saya. Radar hati saya harus bergerak cepat, saya harus meyakinkan kawan lama saya itu. Saya menyadari paradigma yang terbentuk akibat dari kata-kata dan penjelasan saya tentang sang mitra usaha itu membuatnya dirinya minder. Saya tekankan bahwa, "memang sang mitra usaha itu ahli di bidang asuransi kesehatan, tetapi pengetahuan tentang jaringan pemasaran di Bali pastilah anda lebih menguasainya." Lalu saya katakan : "Mitra usaha saya itu orang Jakarta dan anda tinggal di Bali, jadi anda pasti lebih menguasai pemasaran di Bali dan bahkan apabila sang mitra usaha itu berjalan sendrian di daerah Kuta saja, pastilah dia tersesat kebingungan," saya berusaha meyakinkan. Saat itu, bisa saya rasakan bahwa kawan lama saya itu tersenyum dan kepercayaan dirinya tumbuh kembali. Dia berkata : "baik, berapa nomor teleponnya, dan dimana dia tinggal!" dengan suara penuh keyakinan. Kawan lama saya tiu hampir kehilangan peluang usaha senilai 100.000 USD. Produk yang belum pernah ada di Bali. Saya yakin akan berhasil, karena kawan lama saya itu memiliki akses penting di Bali, yang menurut saya berpotensi dan membutuhkan produk tersebut."

Dari kisah diatas, sekiranya bisa menjelaskan bahwa sebuah kalimat, sebuah keterangan, atau sebuah kejadian, mampu mengubah paradigma berpikir seseorang. Dan sebaliknya, mampu menghasilkan sikap yang sangat merugikan. Dalam diri seseorang sebenarnya telah dikaruniai oleh Tuhan sebuah jiwa, dimana dengan jiwa tersebut, tiap orang bebas memiliki sikap. Bereaksi positif atau negatif, bereaksi salah atau benar, bereaksi rekatif atau proaktif, bereaksi baik atau buruk. Andalah sebenarnya penanggung jawab penuh dari reaksi diri anda, sikap anda, dan keputusan anda.

Lingkungan bisa berubah dalam hitungan detik tanpa bisa diduga. namun prinsip adalah abadi. Prinsip tidak berubah. Disanalah terletak pusat rasa aman yang hakiki. Rasa aman yang tercipta dari dalam, bukan dari luar. Prinsip yang benar bukanlah sekedar sikap "proaktif" yang selama ini dikenal di barat, yaitu melihat dan berespon dengan cara yang "berbeda" tenpa prinsip dasar yang jelas. Prinsip dasar adalah suatu kesadaran fitrah (awareness), berpegang kepada Pencipta yang abadi. Prinsip yang esa, Laa ilaaha Illallah.

Kemampuan untuk "mengendalikan sukma" ketika suatu permasalahan terjadi atas diri kita adalah sangat sulit dilakukan tanpa adanya kekuatan prinsip yang bisa dipegang teguh. Kemampuan untuk mengendalikan sukma (proaktif) melalui prinsip Allah Yang Maha Esa dinamakan kekuatan prinsip. inilah dasar penjernihan emosi kita, bukan proaktif seperti yang diajarkan oleh kalangan orang-orang barat yang masih meraba-raba itu.

Kekuatan prinsip selanjutnya akan menentukan tindakan apa yang akan diambil, jalan yang fitrah atau jalan non-fitrah. Jalan non-Fitrah cenderung menyesatkan dan merugikan. Sedangkan jalan fitrah adalah suatu tindakan yang dibimbing oleh suara hati. Suara hati ini berasa dari God-Spot. Ini sesuai dengan jalaludin Rumi, Danah zohar, Ian Marshall, VS Ramachandran. Atau hasil riset syaraf Austria, Wolf singer,. Mereka pakar dibidang SQ. Sederhananya adalah firman Allah pada Surat Asy Syams Ayat 8-10 :
(Allah) mengilhami (sukma) kejahatan dan kebaikan. Sungguh, bahagialah siapa yang menyucikannya. Dan rugilah siapa yang mencemarkannya.


Sumber : Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual (Ari Ginanjar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar